Menurut Chang & Goldsby (2016), elektrolit adalah zat yang menghasilkan ion ketika dilarutkan dalam air sehingga larutannya mampu menghantarkan listrik. Ion yang terbentuk dapat berupa ion hasil disosiasi (pada garam atau basa) atau ion hasil ionisasi (pada asam).
Menurut Zumdahl & DeCoste (2017), non-elektrolit adalah zat yang tidak terionisasi dalam air dan tetap berupa molekul netral, menyebabkan larutannya tidak menghantarkan listrik.
Mengalami disosiasi atau ionisasi.
Menghasilkan ion positif (kation) dan ion negatif (anion).
Interaksi ion dengan air disebut hidrasi ion.
Contoh proses:
NaCl(s) → Na⁺(aq) + Cl⁻(aq)
Tidak mengalami ionisasi.
Molekulnya tetap utuh sebagai molekul kovalen.
Air hanya memisahkan molekul tanpa memutus ikatan.
Contoh: glukosa hanya terdispersi dalam air tanpa membentuk ion.
Menghantarkan listrik dengan baik (kuat) atau sebagian (lemah), tergantung jumlah ion.
Diukur melalui konduktivitas listrik larutan.
Elektrolit kuat menghasilkan banyak ion; elektrolit lemah menghasilkan sedikit ion.
Tidak dapat menghantarkan listrik karena tidak ada ion bebas dalam larutan.
Hambatan listrik sangat tinggi.
Biasanya:
Garam (NaCl, KCl)
Asam (HCl, H₂SO₄, CH₃COOH)
Basa (NaOH, KOH, NH₃)
Umumnya senyawa kovalen:
Gula (glukosa, sukrosa)
Alkohol (etanol, metanol)
Urea
Sebagian besar senyawa organik non-asam/basa
Menurut Brown et al. (2014), elektrolit memiliki faktor van’t Hoff (i) > 1 karena terurai menjadi ion, sehingga:
Penurunan titik beku lebih besar
Kenaikan titik didih lebih besar
Tekanan osmotik lebih tinggi
Faktor van't Hoff i = 1, karena tidak menghasilkan ion.
Efek koligatif hanya bergantung pada jumlah molekul.
Cairan infus (NaCl 0,9%)
Larutan garam, larutan asam cuka
Air laut
Larutan gula
Alkohol 70%
Larutan urea